Kalau sebelumnya kita sudah membahas kenapa fillet "dori" di pasar sebenarnya adalah patin, sekarang giliran mengenal patin sebagai spesiesnya sendiri — bukan sekadar bahan baku fillet, tapi ikan air tawar dengan bentuk tubuh dan kebiasaan hidup yang khas.

Bentuk Tubuh yang Mudah Dikenali

Patin (Pangasianodon hypophthalmus) punya tubuh memanjang tanpa sisik, berwarna putih keperakan dengan punggung yang cenderung kebiruan. Kepalanya relatif kecil dibanding badannya, dengan mulut yang terletak agak ke bawah — bentuk yang membantunya mencari makan di dasar atau kolom air bagian bawah. Ciri paling khas ada di sekitar mulutnya: empat helai kumis (barbel) yang berfungsi sebagai alat peraba, penanda umum ikan dari kelompok catfish. Patin dewasa bisa tumbuh cukup besar, dengan panjang tubuh yang dilaporkan bisa mencapai 120 sentimeter dalam kondisi ideal.

Habitat: Sungai Besar dan Muara

Patin hidup di tepi sungai-sungai besar dan muara, dengan sebaran asli meliputi cekungan Sungai Mekong, Chao Phraya, dan Maeklong di Asia Tenggara. Ikan ini menyukai perairan hangat tropis dan cenderung berpindah ke daerah banjir atau rawa-rawa musiman saat musim hujan, sebelum kembali ke saluran utama sungai ketika air surut.

Kebiasaan Nokturnal

Patin adalah hewan nokturnal — lebih aktif mencari makan pada malam hari dibanding siang. Di alam liar, kebiasaan ini membantunya menghindari predator sekaligus memanfaatkan waktu saat kompetisi mencari makan dengan ikan lain relatif lebih rendah. Sifat inilah yang membuat patin di kolam budidaya sering terlihat lebih tenang di siang hari dan mulai lebih aktif menjelang sore dan malam.

Nama ilmiahPangasianodon hypophthalmus
Habitat asliSungai besar & muara, cekungan Mekong dan sekitarnya
Panjang maksimalHingga sekitar 120 cm
KebiasaanNokturnal, lebih aktif mencari makan malam hari

Budidaya Patin di Indonesia

Patin siam mulai dibudidayakan secara luas di Indonesia sejak awal 1980-an, setelah teknik pembenihan buatan berhasil dikembangkan sehingga produksi bibit tidak lagi bergantung sepenuhnya pada tangkapan alam. Sejak itu, budidaya patin berkembang pesat di banyak provinsi karena pertumbuhannya yang relatif cepat dan kemampuannya beradaptasi dengan kondisi kolam.

Soal Umpan Memancing Patin

Karena sifatnya yang nokturnal dan cenderung mencari makan di dasar perairan, pemancing patin biasanya lebih mengandalkan umpan beraroma kuat yang bisa "ditemukan" ikan lewat penciuman, ketimbang umpan yang mengandalkan penglihatan. Kebiasaan makan malam hari juga membuat sesi memancing patin sering lebih produktif menjelang senja atau larut malam dibanding tengah hari.